Ahad, 28 Ogos 2016

(F03) GOLONGAN SESAT petunjuk Allah (al-Quran) - golongan PASIK & MUNAFIK.

CIRI-CIRI DAN SIFAT ORANG MUNAFIK
Golongan Munafiq hendak menipu Allah dan orang mukmin.

Orang Pasik & Munafiq itu kedua-duaNya adalah golongan Sesat Aqidah (al-Iman) dari Syariah - FIQH (al-Ilmu).  Orang yang engkar larangan Allah (al-Quran) berulang-ulang - KAPIR demi KAPIR demi KAPIR dan demi KAPIR sejak pulohan tahun, melibatkan perkara Agama (ad-deen) dan Ketuhanan (al-Islam) serta Furuq (cabanganNya) - Aqidah (al-Iman) dari Syariah ; Syara' - FIQH (al-Ilmu).

Pelaku perbuatan Engkar Larangan... (Kapir kepada) ...Allah (al-Quran) berulang  itu lah golongan Sesat terbahagia dua - Pasik & Munafik, kedua2Nya adalah golongan Sesat, maka wajib lah belum berIman (al-Iman) yang sempurnah, juga jauh lagi dari Islam (al-Islam)...

Keadaan orang munafiq ini sangat berbahaya. Maka Allah menyebutkan sifat mereka secara luas dalam berbagai macam cara siasat mereka yang licin dan penakut itu supaya orang muslim menghindari sifat-sifat itu dan juga waspada terhadap orang-orang yang bersifat demikian. Supaya kaum mukminin jangan tertipu oleh siasat dan perangkap mereka. Mereka dengan perbuatan nifaqnya seakan-akan menipu Allah dan kaum mukminin, padahal akibat bahaya nifaq itu hanya akan menimpa diri mereka sendiri, sedangkan mereka tidak merasa dan mengerti yang demikian itu.

 A009
(Al-Baqarah : 9 )
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.

A142

(QS An-Nisa : 142)
Sesungguhnya orang-orang munafiq itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka…

Orang munafiq, dia dikatakan ‘orang yang menipu’ Allah dan orang-orang mukmin dengan mengucapkan kata-kata yang dapat menyelamatkan dirinya dari pembunuhan, penahanan dan siksaan yang segera. Padahal di balik penampilan luarnya dia (orang munafiq) memendam kebencian.

Yang demikian itu adalah salah satu dari sikap orang munafiq. Sekalipun dia menipu orang-orang mukmin dalam kehidupan di dunia ini, tetapi dia dengan perbuatannya itu sama saja dengan menipu dirinya sendiri. Dikatakan demikian karena perbuatan yang ditampakkannya itu menurutnya dapat memberikan apa yang dicita-citakannya dan kebahagiaan. Padahal pada kenyataannya justru merupakan sumber kejatuhannya dan berakibat siksaan di hari kemudian serta murka Allah dan adzab-Nya yang amat pedih tiada bandingannya.

Tipuan yang orang munafiq lancarkan tersebut disangkanya sebagai perbuatan yang baik untuk dirinya, padahal sesungguhnya dia berbuat jahat pada dirinya sendiri bagi kehidupannya di akhirat nanti.

Allah memberitahu kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, bahwa orang munafiq telah mencelakakan dirinya sendiri karena perbuatan mereka membuat Tuhan murka, yaitu kekufuran, keraguan, dan kedustaan yang mereka lakukan tanpa mereka rasakan dan tanpa mereka ketahui hingga membuat mereka buta dan menetapi perbuatannya itu.

Bahwa ciri khas orang munafiq pada umumnya adalah berakhlak rendah, percaya dengan lisan tapi ingkar dengan hati, dan berbeda dengan perbuatan serta sepak terjangnya; di pagi hari berada dalam satu keadaan, sedangkan di petang harinya dalam keadaan lain; begitu pula kebalikannya, di petang hari dalam satu sikap, sedangkan di pagi harinya bersikap lain. Orang munafiq terombang-ambing bagaikan perahu yang ditiup angin kencang dan hanya bersikap mengikuti arah angin.

Orang-orang munafiq itu mengaku beriman terhadap Allah dan hari akhir tetapi sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

A008

(Al-Baqarah : 8 )
Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.

Melalui ayat ini Allah memperingatkan kaum mukmin agar jangan terbujuk oleh lahiriah sikap mereka, yaitu dengan menerangkan sifat-sifat dan ciri khas orang-orang munafiq, karena hal tersebut akan mengakibatkan timbulnya kerusakan yang luas sebagai akibat tidak waspada terhadap orang-orang munafiq; dan sebagai akibat meyakini keimanan mereka, padahal kenyataannya mereka adalah orang-orang kafir. Hal ini merupakan larangan besar, yaitu menduga baik kepada orang-orang yang ahli kepada kemaksiatan.

Allah mendustakan kesaksian dan kalimat berita orang-orang munafiq, yang berkaitan dengan aqidah mereka

A001 (Al-Munafiqun : 1)
Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafiq itu benar-benar orang pendusta.
Orang-orang munafiq hendak menipu Allah dan orang-orang beriman karena mereka hanya menampakkan keimanannya pada lahiriyah saja, sedangkan batin mereka memendam kekufuran. Karena kebodohan mereka itu sendiri, mereka menduga bahwa diri mereka menipu Allah Subhanahu wata’ala. Sebagaimana mereka dapat mengecoh sebagian kalangan kaum mukmin.

Orang-orang munafiq tidak mengelabuhi melalui perbuatan yang demikian itu; tidak pula menipu melainkan hanya diri mereka sendiri, sedangkan diri mereka tidak merasakan hal itu.

Orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin.

Termasuk ciri-ciri orang munafiq yaitu, orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Orang-orang munafiq pada hakekatnya berpihak pada orang kafir dan menyembunyikan rasa cinta mereka kepada orang-orang kafir. Orang-orang munafiq itu menganggap orang-orang kafir itu mempunyai kekuatan, sehingga mereka mencari kekuatan dan berlindung di sisi orang kafir itu. Orang-orang munafiq lupa bahwa semua kekuatan itu milik Allah.

Allah telah mengancam orang-orang munafiq itu dengan ancaman siksaan yang pedih di hari akhir.


A138
A139  
Kabarkanlah kepada orang-orang munafiq bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. 
(QS An-Nisa 138-139)

Orang-orang beriman dihimbau untuk tidak mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Jika tidak ingin mendapat kemudaratan dan jika tidak ingin mendapat siksa dari Allah di hari akhir.

A118
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (QS Ali-Imran : 118 )

A144
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)? 
(QS An-Nisa : 144)

Istilah ‘wali’ disini ialah berteman dengan mereka, setia dan ikhlas, dan merahasiakan kecintaan serta membuka rahasia orang-orang mukmin kepada orang-orang kafir.

Orang-orang munafiq suka duduk bersama-sama orang-orang kafir pada waktu orang-orang kafir itu mengingkari dan mengolok-olok ayat-ayat Allah.

Contoh ciri-ciri orang munafiq yaitu, orang-orang munafiq suka duduk bersama-sama orang-orang kafir pada waktu orang-orang kafir itu mengingkari dan mengolok-olok ayat-ayat Allah.

Dan jika ditanyakan kepada mereka, tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.”

A140
Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafiq dan orang-orang kafir di dalam Jahanam, 
(QS An-Nisa : 140 )

A065
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab: “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”
 (QS At-Taubah :65)

Sungguh Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafiq itu dan orang-orang kafir di neraka jahannam. Jadi nifaq itu termasuk dosa besar karena mendapat ancaman khusus dari Allah yaitu dimasukkan ke dalam neraka jahannam.

Kita dianjurkan untuk hati-hati agar tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang meyerupai perbuatan orang-orang munafiq ini, yaitu mengolok-olok agama dan kehormatan agama islam.

Sesungguhnya jika kita melakukan hal yang terlarang sesudah larangan itu sampai pada kita, dan kita rela duduk bersama-sama mereka di tempat yang padanya diingkari ayat-ayat Allah, diperolok-olokkan serat dikecam dengan pedas, lalu kita menyetujui hal tersebut, berarti sesungguhnya kita berserikat dan bersekongkol dengan orang-orang kafir dalam hal itu.

Apabila kita melihat orang-orang memperolok-olokkan Ayat-ayat Allah, maka tinggalkanlah mereka.

Mengolok-olok ini ada dua macam :

Secara nyata (terus terang)

Contoh seperti: ucapan mereka: “Belum pernah kami melihat seperti para ahli baca Al-Quran ini, orang yang lebih buncit perutnya, lebih dusta lisannya, dan lebih pengecut dalam peperangan, atau ucapan-ucapan lain yang bersifat olok-olok.

Secara tidak terus terang

Contohnya banyak tidak terhitung, seperti: mengedipkan mata, menjulurkan lidah, memonyongkan bibir, meremehkan dengan isyarat tangan ketika membaca Kitabullah atau sunnah RasulNya, atau ketika melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.

Orang-orang munafiq kadang di pihak orang mukmin dan kadang di pihak orang kafir.

Orang-orang munafiq adalah termasuk orang-orang opportunistik. Pada waktu kondisi orang-orang mukmin memperoleh kemenangan, berjaya dan mempunyai kekuatan besar, mereka berada di pihak orang-orang mukmin. Mereka menjilat orang-orang mukmin dengan kata-kata “bukankah kami beserta kamu ? Hal ini agar harta dan darah mereka aman dan dijamin oleh orang-orang mukmin.

Namun tatkala kondisi orang-orang mukmin lemah, tersudut dan kalah, saat itulah muncul watak asli orang-orang munafiq. Mereka berkata kepada orang-orang kafir, “Kami telah membantu kalian secara rahasia, dan tiada henti-henti kami tipu dan perdayai orang-orang mukmin sehingga kalian menang atas orang-orang mukmin. Kami ikut andil memenangkan kalian.”

Mereka ternyata berpihak pada orang-orang kafir. Ternyata orang-orang munafiq itu punya andil dalam kekalahan orang-orang mukmin. Mereka membocorkan rahasia orang-orang mukmin kepada orang kafir, membela orang kafir dari orang mukmin. Jika orang munafiq berperang di pihak orang mukmin mereka berperang tidak sepenuh hati.

A141
(yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?” Dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. 
(QS An-Nisa : 141)

Orang-orang munafiq selalu mengintai kehancuran bagi orang-orang mukmin di setiap saatnya. Dengan kata lain, mereka selalu menunggu-nunggu kehancuran kekuasaan orang-orang mukmin dan kemenangan orang-orang kafir atas mereka, hingga agama orang-orang mukmin lenyap

Jika orang-orang munafiq itu bertemu dengan kaum mukminin, mereka berpura-pura beriman. Tetapi juka mereka telah kembali ke pemimpin dan tokoh mereka, kelompok, aliran dan jaringan atau aliansi mereka, orang-orang munafiq itu mengatakan “kami setia dan tetap sependirian dengan mereka, kami hanya mengolok-olok kaum mukminin”. Mereka hanya mempermainkan orang-orang mukminin.

Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada syaitan-setan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”. 

A014
A015
Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka. 
(QS Al-Baqarah : 14-15)

Orang-orang munafiq menampakkan kepada kaum mukmin seakan-akan diri mereka beriman dan berpihak atau bersahabat dengan kaum mukmin. Akan tetapi sikap ini mereka maksudkan untuk mengelabuhi kaum mukmin dan diplomasi mereka untuk melindungi diri agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang mukmin dan mendapat kebaikan yang diperoleh kaum mukmin.

Allah Subhanahu wata’ala memberitahukan bahwa Dialah yang akan melakukan pembalasan terhadap orang-orang munafiq itu kelak di hari kiamat.

Allah pasti akan memberikan balasan terhadap orang-orang munafiq dengan balas meperolok-olok dan menyiksa mereka dengan siksaan tipuan, sebagaimana tipuan yang telah mereka lakukan.

Orang-orang munafiq telah tersesat di dalam kekufuran dan kesesatan yang menggelimangi dan menutupi diri mereka karena perbuatan kotor dan najis. Mereka terombang-ambing dalam kebingungan dan kesesatan. Mereka tidak akan dapat menemukan jalan keluar, karena Allah Subhanahu wata’ala telah mengunci mati hati mereka dan mengelaknya serta membutakan pandangan hati mereka dari jalan hidayah, hingga tertutup pandangan mereka, tidak dapat melihat petunjuk, tidak dapat pula mengetahui jalannya.

Orang-orang munafiq suka mengejek orang-orang beriman sebagai orang-orang bodoh

Orang munafiq selalu merasa lebih bijaksana dan lebih modern dari orang-orang mukmin lainnya. Sebab mereka tidak mempunyai keyakinan dan selalu ragu, karena itu orang munafiq meragukan ajaran Nabi Muhammad, meragukan al Qur’an, sunnah Rasul, meragukan hari akhir dan meragukan takdir Allah.

Orang munafiq menganggap tiap-tiap orang yang percaya dan yakin terhadap agama itu bodoh, tidak maju fikirannya, kolot, fundamentalis, konservatif, susah diajak maju, ketinggalan jaman dan julukan-julukan jelek lainnya.

Padahal keraguan mereka terhadap ajaran Allah melalui rasulNya itulah kebodohan dan kesesatan yang jelas, tetapi mereka tidak mengetahui, tidak merasa, tidak sadar terhadap kesesatan dan kebodohan yang mencolok itu.

Kebodohan mereka sangat keterlaluan hingga tidak menyadari kebodohannya sendiri, bahwa sebenarnya keadaan mereka dalam kesesatan dan kebodohan. Ungkapan ini lebih kuat untuk menggambarkan kebutaan mereka dan kejauhan mereka dari hidayah. 

A013
Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu. 
(QS Al-Baqarah : 13)

Malas dalam beribadah dan riya dalam beribadah kepada Allah dan tidak mau mengingat Allah atau berdzikir kecuali hanya sedikit.

Ciri dan sifat orang munafiq lainnya yaitu dalam melakukan amalan yang mulia lagi paling utama yaitu shalat, mereka penuh kemalasan. Karena tiada niat dan iman bagi mereka untuk melakukannya, tiada rasa takut, dan tidak memahami makna shalat yang sesungguhnya. Riya dalam beribadah kepada Allah dan tidak mau mengingat Allah atau berdzikir kecuali hanya sedikit. 

A142
… Dan apabila mereka berdiri untuk bersalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan salat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. 
(QS An-Nisa : 142)

Gambaran batin orang-orang munafiq yang rusak. Tiada ikhlas bagi orang-orang munafiq, dan amal mereka bukan karena Allah, melainkan hanya ingin disaksikan oleh manusia untuk melindungi diri mereka dari manusia; mereka melakukannya hanya dibuat-buat. Karena itu mereka sering kali meninggalkan shalat yang sebagian besarnya tidak kelihatan di mata umum; seperti shalat Isya’ di hari yang gelap dan shalat subuh di saat pagi masih gelap.

Dalam shalat mereka (orang-orang munafiq) pun; mereka tidak khusyu’ mengerjakannya dan tidak mengetahui apa yang diucapkannya. Bahkan dalam shalatnya orang-orang munafiq itu lalai dan bermain-main serta berpaling dari kebaikan yang seharusnya mereka kehendaki.

Orang-orang munafiq itu takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut (dari itu)

Salah satu ciri dan sifat lainnya dari orang munafiq yaitu ketika mereka diwajibkan berjihad atau berperang di jalan Allah, tiba-tiba orang-orang munafiq itu takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut (dari itu).

A077
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafiq) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun. 
(QS An-Nisa : 77)

Orang-orang munafiq menganggap jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan ini dari sisi Allah dan jika mereka ditimpa keburukan, nereka mengatakan ini dari Nabi Muhammad

Orang-orang munafiq menganggap jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan ini dari sisi Allah dan jika mereka ditimpa keburukan, mereka mengatakan ini dari Nabi Muhammad. Padahal kebajikan apapun yang diperoleh itu adalah dari sisi Allah dan keburukan apapun yang menimpamu itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah: “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang itu (orang munafiq) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?

A078 
A079
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS An-Nisa 78-79 )

Orang-orang munafiq hanya taat sesaat saja, pada kesempatan lain mereka mengatur siasat.

Mereka hanya taat sesaat saja, tapi pada kesempatan lain mereka mengatur siasat mengambil keputusan lain dari yang telah mereka katakan tadi.

A081
Dan mereka (orang-orang munafiq) mengatakan: “(Kewajiban kami hanyalah) taat”. Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung. 
(QS An-Nisa : 81)

Allah mengetahui dan mencatat perbuatan orang-orang munafiq itu ke dalam catatan amal perbuatan mereka. Hal ini dilakukan oleh para malaikat pencatat amal perbuatan yang ditugaskan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Allah mengetahui semua yang tersimpan di dalam hati orang-orang munafiq itu, semua hal yang mereka rahasiakan di antara sesamanya, dan semua makar yang mereka sepakati di malam hari. Sekalipun pada lahiriyahnya mereka bersikap menampakkan ketaatan. Kelak di hari kemudian, Allah akan membalas perbuatan mereka itu terhadap diri mereka.

Orang-orang mukmin hendaknya bersabar terhadap mereka, jangan menghukum mereka, jangan sebarkan perihal orang-orang munafiq itu kepada khalayak ramai, jangan pula merasa takut terhadap ancaman mereka. Cukuplah Allah sebagai Penolong, Pelindung, dan Pembantu bagi orang yang bertakwa dan berserah diri pada-Nya.

Orang-orang munafiq langsung menyiarkan kabar tentang keamanan maupun ketakutan tanpa mengabarkan dulu pada pemerintah/penguasa

Bila ada kabar sampai kepada orang munafiq suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka langsung menyiarkannya. Menyebarkannya kesana-kemari. Padahal jika mereka menyerahkannya kepada pemerintah/penguasa, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenaran (akan) dapat mengetahuinya (secara resmi) dari pemerintah/penguasa. Pemerintah tentunya akan dapat menetapkan kesimpulan (istimbat) dari berita itu. 

A083
Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).
(QS An-Nisa : 83)

Orang-orang munafiq suka mencela tentang (pembagian) sedekah (zakat)


Orang-orang munafiq suka mencela tentang pembagian sedekah/zakat. Jika mereka diberi bagian, mereka bersenang hati dan jika tidak diberi bagian, tiba-tiba mereka marah.

A058
Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah. (QS at-Taubah 58 )

Orang-orang munafiq pandai bicara dan mengagumkan, tapi sebenarnya isi di dalamnya kosong.

A004
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (QS Al-Munafiqun : 4) 


Orang-orang munafiq mempunyai penampilan yang bagus dan mereka itu sangat fasih berbicara, sehingga jika ada orang yang mendengar mereka, dia akan tertarik karena kaindahan bahasanya yang tinggi. Namun demikian, sebenarnya mereka berada di puncak kelemahan, kegelisahan, kekhawatiran, dan menjadi pengecut.

Setiap kali ada peristiwa, perkara, atau ketakutan, orang-orang munafiq mengira dengan rasa pengecut mereka, bahwa perkara itu tertuju pada mereka. Mereka itu sebenarnya adalah tubuh-tubuh dan bentuk rupa, yang tidak mempunyai makna.

Orang-orang munafiq sangat marah dan benci terhadap orang-orang mukmin

Allah Subhanahu wata’ala menerangkan pada firman-Nya :

A119
Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata “Kami beriman”, dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): “Matilah kamu karena kemarahanmu itu”. Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.
(QS Ali Imran : 119)

Demikianlah sikap orang-orang munafik - golongan Sesat yang bertanggung jawab merosakkan hubungan manusia dengan Allah (penyebab orang lain jadi Syirik & Murtad). Mereka menampakkan kepada orang-orang mukmin iman dan kesukaan mereka kepada orang-orang mukmin, padahal dalam batin mereka memendam perasaan yang bertentangan dengan semuanya itu dari segala seginya. Kebencian dan kemarahan orang-orang munafik terhadap orang-orang mukmin itu sangat mendalam.

Orang-orang mukmin menyukai orang-orang munafik karena apa yang tampak pada lahiriah mereka yaitu berupa iman, mempunyai penampilan yang bagus dan mereka itu sangat fasih berbicara. Padahal baik batin maupun lahirnya orang-orang munafik itu sama sekali tidak menyukai orang-orang mukmin.

Orang-orang mukmin tiada rasa bimbang dan ragu terhadap suatu kitab pun baik kitab Al Qur’an, kitab-kitab mereka maupun kitab-kitab lainnya sebelum mereka; sedangkan pada diri orang-orang munafik diliputi oleh keraguan, kebimbangan dan kebingungan terhadap kitab-kitab itu. Orang-orang munafik kafir terhadap kitab orang mukmin.

Karena itu sebenarnya orang-orang mukmin lebih berhak membenci orang-orang munafik dari pada mereka membenci orang-orang mukmin.

Orang-orang munafiq bersedih jika kaum mukminin memperoleh kebajikan dan bergembira jika kaum mukminin memperoleh bencana. 

A120
Jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikit pun tidak mendatangkan kemudaratan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.
(QS Ali-Imran : 120 )

Orang-orang munafiq menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma’ruf

Keadaan ini menunjukkan kerasnya permusuhan orang-orang munafik terhadap orang-orang mukmin. Yaitu apabila kaum mukmin mendapat kemakmuran, kemenangan, dukungan, dan bertambah banyak bilangannya serta penolongnya berjaya, maka hal tersebut membuat susah hati orang-orang munafik. Tetapi jika kaum muslim tertimpa paceklik atau dikalahkan oleh musuh-musuhnya maka orang-orang munafik itu bergembira ria.

Oranga-orang mukmin diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wata’ala, jalan keselamatan dari kejahatan orang-orang yang jahat dan tipu muslihat orang-orang yang zalim, yaitu dengan cara bersabar dan bertaqwa serta bertawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala.
///
Ab Sheikh Yunan.

(F02) SesunggohNya ADAB - AKHLAK itu adalah PUNCAK sekalian manusia yang berAGAMA



SesunggohNya ADAB - AKHLAK itu adalah PUNCAK sekalian manusia yang berAGAMA / berUGAMA / Kepercayaan / Aliran Kepercayaan diseluroh muka bumi ini... " tanpa Adab - Akhlak, sudah tentu tidak mempunyai rasa malu... (binatang), memang tidak berAgama... (binatang), maka sudah tentu belum lagi Islam (al-Islam - I'ttiqadNya)...!!!


ADAB ISLAM KEPADA PEMIMPIN - KERAJAAN.
Bismillahi Wabihamdihi
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, semoga sholawat dan salam sentiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shollallaahu ‘alaihi wasallam.
Demonstrasi - seperti yang terjadi di sebagian negara untuk menggulingkan pemerintah atau meminta pemerintah muslim untuk mengundurkan diri, adalah suatu perbuatan yang bukan berasal dari ajaran Islam, tapi cara tersebut diadopsi dari perilaku orang-orang Non Muslim (bermula dengan "al-Yahud, an-Nasyoro, al-Musyrik & al-Majusa).
Berikut ini kami sebutkan beberapa hal yang merupakan keburukan demonstrasi:

1. Tidak menjalankan perintah Nabi SAW untuk menasehati penguasa secara diam-diam. Bimbingan dari Nabi SAW adalah memberikan nasehat kepada penguasa/ pemimpin muslim secara langsung (4 mata) tanpa harus diketahui oleh orang lain.
Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلاَ يُبْدِهِ عَلاَنِيَّةً وَلَكِنْ يَأْخُذ بِيَدِه فَيَخْلُوا بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلاَّ كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ (رواه الحاكم و ابن أبي عاصم في السنة عن عياض بن غنم)

Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa, hendaknya janganlah menyampaikannya secara terang-terangan, akan tetapi hendaknya ia ambil tangannya, kemudian menyendiri bersamanya (dan menyampaikan nasehatnya). Jika diterima, itulah (yang diharapkan), jika tidak, maka ia telah menyampaikan kewajibannya (H.R alHakim dan Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah dari Iyaadl bin Ghonam).

Semoga kita juga bisa mengambil pelajaran dari sikap Sahabat Usamah bin Zaid yang ditanya oleh sebagian orang: ‘Mengapa engkau tidak menasehati Utsman’? Usamah bin Zaid menyatakan bahwa apakah kalau ia menasehati Utsman, harus diketahui orang lain? Beliau telah menyampaikan nasehat secara langsung kepada Utsman. Perhatikan pula kefaqihan Usamah bin Zaid. Ia menyatakan: Aku tidak ingin menjadi pembuka pintu (fitnah) (hadits riwayat alBukhari dan Muslim). Usamah bin Zaid sangat paham bahwa menegur penguasa secara terang-terangan akan membuka pintu kejelekan dan fitnah. Karena itu beliau menasehati Utsman bin Affan secara diam-diam.
Perhatikan pula sikap Sahabat Nabi Abdullah bin Abi Aufa ketika didatangi oleh Said bin Jumhan dan membicarakan kedzhaliman penguasa, Abdullah bin Abi Aufa segera menegur dengan keras dengan menarik tangannya, sambil menyatakan:

وَيْحَكَ يَا ابْنَ جُمْهَانَ عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ إِنْ كَانَ السُّلْطَانُ يَسْمَعُ مِنْكَ فَأْتِهِ فِي بَيْتِهِ فَأَخْبِرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فَإِنْ قَبِلَ مِنْكَ
وَإِلَّا فَدَعْهُ فَإِنَّكَ لَسْتَ بِأَعْلَمَ مِنْهُ

Celaka engkau wahai putra Jumhan! Hendaknya engkau berpegang teguh dengan as-Sawaadul a’dzham (Nabi dan para Sahabatnya), Hendaknya engkau berpegang teguh dengan as-Sawaadul a’dzham, Hendaknya engkau berpegang teguh dengan as-Sawaadul a’dzham. Jika sultan (penguasa) mau mendengar darimu, datangilah ke rumahnya dan khabarkan tentang apa yang engkau ketahui. Jika diterima, itulah (yang diharapkan), jika tidak, maka sesungguhnya engkau tidaklah lebih tahu dibandingkan dia (riwayat Ahmad).

Salah satu pelajaran penting dari Sahabat yang mulya ini –selain adab menasehati penguasa- adalah janganlah rakyat merasa ia lebih tahu dibandingkan penguasanya. Seringkali orang merasa bahwa apa yang dilakukan pemimpin salah. Kebijakannya menyimpang. Padahal ia hanya menilai dari sudut pandang yang terbatas, sudut pandang rakyat. Seringkali pemimpin lebih tahu karena sudut pandangnya lebih luas (karena wilayah kekuasaannya lebih luas), info yang didapatkan lebih lengkap.

Bahkan, sikap menasehati penguasa secara diam-diam (tidak terang-terangan) itu adalah hak penguasa yang semestinya ditunaikan oleh rakyat. Diriwayatkan bahwa Sahabat Nabi Umar bin al-Khoththob radliyallaahu ‘anhu pernah berkhutbah:

أَيَّتُهَا الرَّعِيَّة إِنَّ لَنَا عَلَيْكُمْ حَقًّا النَّصِيْحَةُ باِلْغَيْبِ وَالْمُعَاوَنَةُ عَلَى الْخَيْرِ

Wahai sekalian rakyat, sesungguhnya kami memiliki hak terhadap kalian: nasehat bilghoib (tanpa diketahui orang lain), dan menolong dalam kebaikan…. (diriwayatkan oleh al-Hannad dalam az-Zuhud dan atThobary dalam Tarikhnya, dua jalur periwayatan ini saling menguatkan).

Said bin Jubair pernah bertanya tentang tata cara amar ma’ruf dan nahi munkar terhadap penguasa kepada Sahabat Nabi Ibnu Abbas radliyallaahu ‘anhu. Ibnu Abbas menyatakan:

إِنْ خِفْت أَنْ يَقْتُلَك فَلاَ تُؤَنِّبَ الإِمَامَ ، فَإِنْ كُنْتَ لاَ بُدَّ فَاعِلاً فَفِيمَا بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ (مصنف ابن أبي شيبة)

Jika engkau khawatir penguasa akan membunuhmu, janganlah engkau mencela penguasa. Jika engkau harus melakukannya (memberikan nasehat) maka hendaknya dilakukan antara dirimu dan dirinya saja (4 mata)(riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya).
Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud radliyallaahu ‘anhu pernah memberikan arahan:

إِذَا أَتَيْتَ الأَمِيرَ الْمُؤَمِنُ فَلاَ تؤتيه أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ(مصنف ابن أبي شيبة)

Jika engkau mendatangi pemimpin mukmin, janganlah bersama seorangpun dari manusia (yang lain) (riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnafnya).

Sahabat Nabi Abu Bakrah radliyallaahu ‘anhu juga pernah mengingkari dan menegur dengan keras sikap Abu Bilal yang mencela terang-terangan pemimpin Abdullah bin Amir. Abu Bakrah menganggap sikap Abu Bilal itu adalah penghinaan terhadap sulthan, dan dikhawatirkan akan mendapatkan adzab kehinaan dari Allah (sebagaimana diriwayatkan oleh atTirmidzi dalam Sunannya).


ADAB ISLAM KEPADA PEMIMPIN - 2

2. Mencela Penguasa
Demonstrasi akan mengarahkan orang untuk mencela penguasa. Padahal orang yang beriman dilarang untuk mencela penguasa mereka. Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَسُبُّوا أُمَرَاءَكُمْ وَ لاَ تغشُّوْهُم وَ لاَ تَعْصُوهُمْ وَ اتَّقُوا اللهَ وَ اصْبِرُوا فَإِنَّ الأَمْرَ قَرِيْبٌ ( رواه ابن أبي عاصم في السنة و البيهقي في شعب الإيمان وقال الألباني في ظلال الجنة إسناده جيد)

Jangan kalian cela pemimpin (umara’) kalian, jangan menipu mereka, jangan bermaksiat kepada mereka (dalam hal yang ma’ruf), dan bertaqwalah kepada Allah serta bersabarlah karena al-amr (urusan ini) telah dekat (H.R Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah dan dinyatakan oleh Syaikh al-Albany bahwa sanadnya jayyid (baik)).
Sahabat Nabi Anas bin Malik radliyallaahu ‘anhu menyatakan:

الأكابر من أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم ينهونا عن سب الأمراء

Pembesar-pembesar dari kalangan Sahabat Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam melarang dari mencela umara’ (pemimpin) (diriwayatkan oleh Abu Amr ad-Daany dalam as-Sunan al-Waridah fil Fitan).
Ubadah bin Nusaiy (salah seorang tabi’in yang mulya, murid dari Sahabat Nabi Abu Sa’id al-Khudry) menyatakan:

أَوَّلُ النِّفَاقِ الطَّعْنُ فِي اْلأَئِمَّة (تهذيب الكمال

Awal kemunafikan adalah mencela para pemimpin (Tahdzibul Kamal (14/197) karya alImam al-Mizzi)
Mencela dan menjelek-jelekkan pemimpin muslim adalah sesuatu hal yang bertentangan dengan bimbingan al-Qur’an. Nabi Musa dan Nabi Harun diperintahkan untuk berdakwah kepada Fir’aun dengan ucapan yang lembut.

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Maka ucapkanlah kepadanya ucapan yang lembut agar ia menjadi ingat atau takut (Q.S Thaha:44).

Kepada Fir’aun yang demikian kafir, Allah perintahkan kepada Nabi Musa dan Harun untuk menyampaikan dakwah dengan kata-kata yang halus dan bukan kata-kata kasar, hardikan, atau celaan, apalagi terhadap pemimpin yang masih muslim.


 MENCABUT KETA'ATAN (Adab kpd Pemimpin -Pemerintah).
3. Bisa menyebabkan seseorang Mencabut Ketaatan terhadap Pemerintah Muslim
Demonstrasi yang dilakukan bisa meruntuhkan wibawa pemerintah di hadapan rakyat, karena kejelekan-kejelekannya dibeberkan. Hal tersebut pada akhirnya bisa menggiring pelaku demonstrasi tersebut atau orang lain yang terpengaruh dengannya untuk tidak mau taat lagi pada pemerintahnya meski dalam hal-hal yang ma’ruf.
Semestinya jika pemimpin memerintahkan kepada kemaksiatan, maka janganlah taat kepada kemaksiatan itu saja, namun tetap taat dalam hal-hal lain yang ma’ruf yang tidak mengandung kemaksiatan. Rasulullah shollalaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ (رواه مسلم)

Dan jika kalian melihat sesuatu yang kalian benci ada pada pemimpin kalian, bencilah p4. (tidak lengkap)...


MENIRU TATACARA ORANG KAFIR... (Adab kpd Pemimpin : Pemerintah)
4. Tasyabbuh (Meniru tata cara orang Kafir)
Perbuatan demonstrasi tersebut adalah tasyabbuh dengan orang-orang kafir - non muslim, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh al-Albany. Hendaknya seorang muslim khawatir dengan perilaku-perilaku yang meniru-niru akhlaq dan tata cara orang-orang kafir - non muslim yang justru menimbulkan mudharat (kerusakan) yang lebih banyak. Rasulullah Shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka mereka termasuk kaum tersebut (H.R Abu Dawud)erbuatannya, tapi jangan cabut ketaatan (dariNya) - (H.R Muslim).


ADAB - Meninggalkan sikap mendoakan kebaikan pada Penguasa/Pemerintah - (6)

6. Meninggalkan Sikap Mendoakan Kebaikan pada Penguasa
Demonstrasi akan menyulut kebencian terhadap penguasa, kebencian itu akan menyebabkan seseorang justru tidak mendoakan kebaikan bagi penguasa. Kalaupun ia mendoakan, justru ia akan mendoakan keburukan (laknat) bagi penguasa. Akibatnya, justru keadaan penguasa tersebut akan semakin buruk.

وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ

Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci dan mereka pun membenci kalian, mereka melaknat kalian dan kalianpun melaknat mereka (H.R Muslim).
dalam riwayat lain dinyatakan:

وَإِنَّ شِرَارَ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ ، وَيُبْغِضُونَكُمْ ، وَتَدْعُونَ عَلَيْهِمْ وَيَدْعُونَ عَلَيْكُمْ

Dan sesungguhnya seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang kalian benci kepadanya dan iapun benci kepada kalian, dan kalian mendoakan (keburukan) untuk mereka, dan mereka pun mendoakan (keburukan) untuk kalian (H.R alBazzar)
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam membimbing kita untuk berdoa memohon hak kita kepada Allah, bukan mendoakan keburukan untuk penguasa:

إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَأْمُرُ مَنْ أَدْرَكَ مِنَّا ذَلِكَ قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ

Sesungguhnya akan terjadi sepeninggalku pemimpin-pemimpin yang mementingkan diri sendiri dan perkara-perkara yang kalian ingkari. Para Sahabat bertanya: Apa yang engkau perintahkan kepada kami jika menemui hal itu? Rasul bersabda: tunaikan kewajiban kalian dan mintalah hak kalian kepada Allah (berdoa)(Muttafaqun ‘alaih).
Mendoakan kebaikan untuk penguasa adalah salah satu syi’ar Ahlussunnah, sebaliknya para pengikut hawa nafsu akan cenderung mendoakan keburukan untuk penguasa.
Al-Imam al-Barbahary-rahimahullah- menyatakan:

إذا رأيت الرجلَ يدعو على السلطان فاعلم أنَّه صاحبُ هوى، وإذا سمعتَ الرجلَ يدعو للسلطان بالصلاح فاعلم أنَّه صاحبُ سنَّة إن شاء الله تعالى

Jika engkau melihat seorang laki-laki mendoakan keburukan untuk penguasa, ketahuilah bahwa ia adalah pengikut hawa (nafsu), dan jika engkau mendengar laki-laki mendoakan kebaikan untuk penguasa, ketahuilah bahwa ia adalah Ahlussunnah –insyaAllah-(Syarhus Sunnah).

///
Ab Sheikh Yunan.


(F93*) PAS GOLONGAN MANUSIA DIMURKAI ALLAH.

KECELAKAAN BESAR BAGI PAS DIDUNIA & AKHIRAT -  " berkata-kata terhadap zat Allah dengan tidak benar dan merampas, mendahului, s...